Ashworth03hart's website

Our website

15
Ju
Cara Memberbesar Nilai Karbon Aktif
15.06.2016 05:27

Arang tempurung kelambir selama ini lebih kerap kita paham sebagai material bakar bagi pemanggangan ikan atau makanan lain. Papar kehitaman arang tempurung nyiur itu, ternyata menyimpan perhitungan ekonomis yang lebih menjulang lagi.

Tempurung kelapa yang dijadikan arang dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan menjadikannya karbon giat. Cara menciptakan karbon giat dari tempurung kelapa pula relatif lebih mudah.
Zat arang aktif berfungsi sebagai filter untuk menjernihkan air, pemurnian gas, usaha minuman, farmasi, katalisator, serta berbagai macam penggunaan lain. Tempurung kelapa adalah satu diantara bahan zat arang aktif yang kualitasnya pas baik dijadikan karbon rajin.

Bentuk serta ukuran, & kualitas tempurung kelapa mesti diperhatikan begitu membuat zat arang aktif. Tempurung kelapa yang akan jadi bahan pembentuk karbon berperan, sebaiknya bebentuk setengah ataupun seperempat standar tempurung.

Kalau ukurannya terlalu hancur, oleh sebab itu tempurung tersebut kurang baik dijadikan benda pembuat zat arang aktif. Atas segi poin, tempurung kelambir yang menggenapi syarat dijadikan bahan zat arang aktif diartikan sebagai kelapa yang benar-benar uzur hingga warnanya hitam mengkilap dan lebat (hujan).

Tempurung yang dijadikan bakal pembuat karbon aktif biasanya dari kelambir yang jadi kopra. Tempurung yang didapatkan merupakan bagian dua daripada satu buah kelapa utama. Untuk menciptakan karbon aktif yang benar-benar berkualitas, tempurung harus terang dan tersisih dari sabutnya.

Ada dua tahapan membuat karbon aktif yang berkualitas dari tempurung kelapa. Takat pertama yang harus dikerjakan adalah tempurung dibuat liang dengan peralatan drum berpenutup.
Tahap ke-2, melalui prosedur penggilingan arang tempurung hingga menghasilkan karbon aktif & serbuk arang. Serbuk arang ini tetap bisa diproses menjadi gumpal arang tempurung. Penggilingan hal itu dilakukan secara mesin sederhana berpenggerak listrik, diesel, atau bensin.

Poin tempurung serta proses pemusnahan akan sangat menentukan rendemen karbon giat yang dihasilkan. Kualitas tempurung kelapa gaib lebih bagus dibanding kelapa hibrida.
Agar dapat memperoleh rendemen karbon aktif yang lebih cantik, langkah-langkah mode pembakaran beserta cara drum diberi empat lubang di bagian dasar. Agar tempo pembakaran udara bisa masuk, drum pantas diganjal 3 potongan batu bata.

Pembakaran liang dilakukan untaian demi lapis tempurung. Start pembakaran mampu dengan mempergunakan kertas alias daun kelambir kering yang ditaruh dalam atas satu lapis tempurung di dasar drum. Sesudah tempurung martabat pertama terbakar, sedikit demi sedikit satu lapisan ditaruh diatasnya. Prosedur ini langsung dilakukan mencapai berbatas drum sesak.
Ketika tempurung lapisan bagi mulai terbakar, batu bata yang menjadi keluhan drum lembut diambil, sehingga dasar drum langsung memeriksa tanah serta menutup tempat. Kemudian tingkah ditutup siaga dan jangan sampai terdapat udara yang masuk.

Kalau ada udara yang masuk, maka arang yang terdapat dalam drum akan menjadi abu. Namun demikian kalau lengkara ditutup rapat sebelum seluruh tempurung terbakar, tempurung tidak akan menjadi arang.
Keesokan harinya, setelah drum dingin, tutupnya dibuka, lalu drum dibaringkan. Arang tempurung kemudian dibongkar secara perlahan-lahan. Arang tempurung yang tampak hitam, mengkilap, utuh, muluk, dan mudah dipatahkan menunjukkan kualitasnya elok. kadar air dalam liang tempurung nyiur antara 50-70 persen.

Zat arang Aktif & Komposisinya
Karbon atau arang aktif ialah material yang berbentuk klasifikasi atau bubuk yang bersumber dari bahan yang berisi karbon sepertinya batubara, kulit kelapa, dan lain-lain. Dengan pengolahan tertentu yakni proses pengorganisasian seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, bisa diperoleh zat arang aktif yang memiliki parasan dalam yang luas.
Liang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan mulai bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Tatkala pemanasan berjalanberlaku, berlanjur, berlantas, berproses, terjadi,, diusahakan agar tidak berlangsung kebocoran udara didalam ruangan pemanasan maka itu bahan yang mengandung karbon tersebut cuma terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga bisa digunakan sederajat adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh raya permukaan atom dan kemampuan ini sanggup menjadi semakin tinggi kalau terhadap liang tersebut dilakukan aktifasi pada bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur menjulung. Dengan demikian, arang bakal mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian dikenal sebagai sebagai arang aktif.

Di dalam satu gram karbon berperan, pada biasanya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2, sehingga luar biasa efektif di dalam menangkap partikel-partikel yang benar halus berukuran 0. 01-0. 0000001 mm. Karbon berperan bersifat luar biasa aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan zat arang tersebut. Di dalam waktu 60 jam rata-rata karbon tangkas tersebut manjadi jenuh & tidak giat lagi. Oleh sebab itu biasanya arang aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara. Sampai tahap tertentu beberapa rupa arang rajin dapat di reaktivasi balik, meskipun demikian tdk jarang yang disarankan untuk sekali per. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung atas metode aktivasi sebelumnya, maka dari itu perlu diperhatikan keterangan dalam kemasan produk tersebut.

Zat arang aktif tersedia dalam bermacam-macam bentuk contohnya gravel, pelihara (0. 8-5 mm) nomor fiber, serbuk (PAC: powder active carbon, 0. 18 mm atau US mesh 80) serta butiran-butiran kecil (GAC: Granular Active carbon, 0. 2-5 mm) dsb. Serbuk karbon aktif PAC lebih gampang digunakan dalam pengolahan larutan dengan organisasi pembubuhan yang sederhana.

Puyer (powder) Senarai (granule) Pecahan (gravel) Pesona
Bahan pokok yang berasal dari satwa, tumbuh-tumbuhan, kotoran ataupun mineral yang terdapat karbon siap dibuat sebagai arang berperan, bahan tersebut antara lain: tulang, kayu lunak, merang, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas penggilingan tebu, ampas pembuatan kertas, serbuk gergaji, kayu keras & batubara.

Dalam negara katulistiwa masih ditemukan arang yang dihasilkan secara tradisional adalah dengan menggunakan drum / lubang dalam tanah, secara tahap pengolahan sebagai berikut: bahan yang akan dibakar dimasukkan di dalam lubang / drum yang terbuat dari plat besi. Kemudian dinyalakan jadi bahan baku tersebut terbakar, pada selagi pembakaran, tingkah atau ruang ditutup oleh karena itu hanya tingkap yang dibiarkan terbuka. lni bertujuan sejajar jalan keluarnya asap. Saat asap yang keluar bercorak kebiru-biruan, ventilasi ditutup & dibiarkan tempo kurang lebih kurang 8 beker atau satu malam. karbon aktif Pada hati-hati ruang atau dibuka dan dicek apakah masih ada kobaran yang menyala. Jika tetap ada yang atau tingkah ditutup kembali. Tidak sampai mengggunakan air untuk memutus bara yang sedang menyala, karena bisa menurunkan kwalitas arang. Tetapi secara sudah biasa proses pabrikasi arang rajin dapat dibagi dua yakni:

1. Prosedur Kimia.
Material baku dicampur dengan bahan-bahan kimia khusus, kemudian dibentuk padat. Berikutnya padatan itu dibentuk menjadi batangan serta dikeringkan beserta dipotong-potong. Aktifasi dilakukan dalam temperatur 100 °C. Liang aktif yang dihasilkan, dicuci dengan larutan selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300 °C. Dengan prosedur kimia, bakal baku siap dikarbonisasi terlebih dahulu, lantas dicampur menggunakan bahan-bahan kimia.

2. Mode Fisika
Benih baku terlebih dahulu dibuat arang. Lalu kemudian arang itu digiling, diayak untuk lalu kemudian diaktifasi dengan cara pemanasan pada temperatur 1000 °C yang disertai pengaliran uap. Proses fisika banyak dikenakan dalam aktifasi arang antara lain:

a. Proses Briket: bahan patokan atau arang terlebih silam dibuat briket, dengan cara mencampurkan benih baku atau arang patut dengan “ter”. Kemudian, gumpal yang didapatkan dikeringkan dalam 550 °C untuk setelah itu diaktifasi beserta uap.

b. Destilasi luruh: merupakan suatu proses penguraian suatu benda akibat memilikinya pemanasan di temperatur semampai dalam keadaan sedikit ataupun tanpa udara. Hasil yang diperoleh berona residu diantaranya arang & destilat yang terdiri daripada campuran metanol dan asam asetat. Ampas yang didapatkan bukan yakni karbon asli, tetapi masih mengandung debu dan “ter”. Hasil yang diperoleh menyerupai metanol, kecut asetat & arang tergantung pada bahan baku yang digunakan dan metoda destilasi. Diharapkan absorbsivitas arang rajin yang didapatkan dapat mimpi atau kian baik dari pada isi arang aktif yang diaktifkan dengan merapatkan bahan-bahan kimia. Juga secara cara ini, pencemaran putaran sebagai hukuman adanya persetujuan senyawa-lenyawa kimia dari bahan-bahan pada jangka proses pengarangan dapat diihindari. Selain ini, dapat dihasilkan asap pulih sebagai impak pengembunan uap hasil penguraian senyawa-senyawa organik dari bakal baku.

Tersedia empat sesuatu yang bisa dijadikan sempadan dari permakluman komponen kusen yang tercipta karena pemanasan pada prosedur destilasi kering, yaitu:
1. Batasan A adalah suhu pemanasan sampai 200 °C. Air yang terkandung dalam bahan patokan keluar menjadi uap, oleh karena itu kayu jadi kering, retak-retak dan miring. Kandungan karbon lebih kurang 60 %.
2. Batasan B adalah temperatur pemanasan antara 200-280 °C. Kayu secara perlahan – lahan jadi arang & destilat dari dihasilkan. Warna arang menjadi coklat saru serta rahim karbonnya lebih kurang 700%.
3. Batasan C adalah suhu pemanasan jurang 280-500 °C. Pada temperatur ini hendak terjadi karbonisasi selulosa, permakluman lignin dan menghasilkan “ter”. Arang yang terbentuk miliki warna hitam juga kandungan karbonnya meningkat jadi 80%. Reaksi pengarangan secara praktis keluar pada temperatur 400 °C.
4. Batas D didefinisikan sebagai suhu pemanasan 500 °C, terjadi metode pemurnian liang, dimana pembentukan “ter” tetap terus berlangsung. Kadar zat arang akan merabung mencapai 90%. Pemanasan diatas 700 °C, hanya membuahkan gas hidrogen.

Namun berdasar pada umum serta sederhana reaksi pembuatan arang aktif terdiri dari 3 tahap ialah:
1. Dehidrasi: proses penghilangan air yang mana bahan baku dipanaskan datang temperatur 170 °C.
2. Karbonisasi: pemecahan bahan-bahan organik menjadi zat arang. Suhu lebih dari 170°C bakal menghasilkan CO, CO2 serta asam asetat. Pada temperatur 275°C, dekomposisi menghasilkan “ter”, metanol dan hasil sanding lainnya. Penyusunan karbon berlangsung pada temperatur 400 – 600 0C
3. Aktifasi: dekomposisi tar dan uraian pori-pori. Mampu dilakukan secara uap atau CO2 serupa aktifator.

Metode aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping benda baku yang digunakan. Yang dimaksud pada aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap liang yang menghendaki untuk memperbesar pori adalah dengan cara memecahkan permufakatan hidrokarbon alias mengoksidasi molekul – molekul permukaan maka itu arang mengalami perubahan semangat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap kesanggupan adsorpsi. Metoda aktifasi yang umum dipakai dalam penggarapan arang aktif adalah:

1. Aktifasi Kimia.
Aktifasi ini merupakan metode pemutusan ikatan karbon dr senyawa organik dengan pemakian bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat daripada logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4.

2. Aktifasi Fisika.
Aktifasi ini yakni proses pengakhiran rantai karbon dari senyawa organik menggunakan bantuan gawat, uap & CO2. Biasanya arang dipanaskan didalam tanur pada temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah adalah reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga kian mudah dikontrol dan mengelokkan umum dipakai.

Beberapa benih baku semakin mudah untuk diaktifasi bahwa diklorinasi terlebih dahulu. Berikutnya dikarbonisasi bagi menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhimya diaktifasi beserta uap. Pun memungkinkan dalam memperlakukan arang kayu menggunakan uap marmer pada temperatur 500°C serta kemudian desulfurisasi dengan H2 untuk memperoleh arang menggunakan aktifitas tinggi. Dalam sejumlah bahan barang yang diaktifasi dengan perserikatan bahan kimia, dikasih aktifasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu.

Secara bertambah lamanya destilasi bersama bertambah tingginya temperatur destilasi, mengakibatkan peringkat arang yang dihasilkan bertambah kecil, adapun destilasi & daya serap makin besar. Sedangkan dengan bertambah bertambahnya temperatur destilasi, absorbsivitas arang rajin semakin bagus, masih diperlukan pembatasan temperatur yaitu tdk melebihi 1000 0C, karena banyak terbentuk abu sehingga menutupi pori-pori yang berfungsi untuk mengadsorpsi. Sebagai jadinya daya serap liang aktif mau menurun. Berikutnya campuran liang dan aktifator dipanaskan pada temperatur dan waktu unik. Hasil yang diperoleh, diuji daya serapnya terhadap uap Iodium.
Pendapat SII No. 0258 -79, arang aktif yang bagus mempunyai traktat seperti yang tercantum pada tabel berikut ini:

Karbon rajin terbagi kepada 2 tipe yaitu arang aktif sebagai pemucat & arang giat sebagai penyerap uap.

1. Arang rajin sebagai pemucat.
Biasanya nyata serbuk yang sangat siluman dengan diameter pori mencecah 1000 A0 yang dimanfaatkan dalam peringkat cair. Biasanya berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan corak dan raksi yang tidak diharapkan dan membiarkan pelarut dr zat – zat penganggu dan kemampuan yang yang lain pada industri kimia serta industri terkini. Arang berperan ini diperoleh dari talk – tahi gergaji, ampas produksi kertas / dari bakal baku yang mempunyai densitas kecil serta mempunyai susunan yang sementung.

2. Liang aktif sebagai penyerap uap.
Biasanya berupa granula ataupun pellet yang sangat mersik dengan sengkang pori berpendar antara 10-200 A0. Type porinya kian halus serta digunakan dalam fase udara yang berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut atau impetus pada pemisahan dan pemurnian gas. Biasanya arang itu dapat didapat dari tempurung kelapa, rangka, batu bata atau bahan baku yang ada struktur rusuh.

Sehubungan pada bahan pokok yang diterapkan dalam produksi arang aktif untuk masing- masing macam, pernyataan lebih dari bukan adalah suatu tuntutan.
Dengan reaksi oksidasi zat arang aktif yang dihasilkan terdiri dari 2 jenis, yakni:

1. L-karbon (L-AC)
Karbon aktif yang dibuat pada oksidasi dalam suhu 300oC – 400oC (570o-750oF) pada menggunakan udara atau oksidasi kimia. L-AC sangat pas dalam mengadsorbsi ion terlarut dari logam berat basa seperti Pb2+, Cu2+, Cd2+, Hg2+. Tabiat permukaannya yang bersifat kecut akan berinteraksi dengan logam basa. Restorasi dari L-AC dapat dikerjakan menggunakan kecut atau gusar seperti NaCl yang hampir sama perlakuannya pada pertukaran ion.

2. H-karbon (H-AC)
Karbon tangkas yang didapatkan dari prosedur pemasakan di suhu 800o-1000oC (1470o-1830oF) lalu didinginkan di dalam atmosfer inersial. H-AC punya permukaan yang bersifat basa sehingga tdk efektif di dalam mengadsorbsi logam berat alkali pada suatu larutan air tetapi sangat lebih effisien dalam mengadsorbsi kimia organik, partikulat hidrofobik, dan sintesis kimia yang mempunyai kelarutan yang ringan dalam air. Akan tetapi H-AC dapat dimodifikasi dengan menaikan angka asiditas. Permukaan yang netral bakal mengakibatkan tidak efektifnya dalam mereduksi dan mengadsorbsi kimia organik sehingga efektif mengadsorbsi ion logam berat secara kompleks khelat zat organik alami sekalipun sintetik secara menetralkannya.

Dalam aplikasi zat arang aktif cantik yang diterapkan sebagai perangkat adsorbsi, pemberat atau perangkat filtrasi menggunakan titik injeksi tertentu, dipastikan kriteria model titik pembubuhan karbon rajin perlu diperhatikan, yaitu:

1. Karbon yang terdapat didalam kantong saksama dimasukkan kedalam tangki penyimpanan dan dicampur dengan larutan untuk disiapkan menjadi pumpunan yang berisi 0, 1 kg karbon aktif bubuk per 1 liter sintesis. Lebih baik lagi jikalau suatu instalasi memiliki 2 tangki perpaduan, maka persediaan larutan karbon aktif dalam dibubuhkan dapat ditempatkan dalam 2 bak, jika uap didalam satu tangki telah kosong, maka sudah ada larutan didalam tangki lainnya untuk dibubuhkan, tanpa mesti menunggu rencana larutan karbon aktif yang baru.

2. Agitator mekanik harus disediakan dalam tangki penyimpanan bagi menjaga pumpunan karbon giat tetap “tersuspensi” didalam larutan atau melestarikan larutan supaya tidak menghablur
3. Pumpunan biasanya dipompakan kedalam tangki yang menggaplok sejumlah sintesis dan mau diumpankan dalam lebih daripada beberapa weker berikutnya. Tanki tersebut mesti mudah dibersihkan dan dipelihara. Tangki ini harus punya lapisan perlawanan karat menyerupai cat epoxy atau bitumastik untuk melindunginya dari pengkaratan.

4. Pipa pembawa uap karbon rajin bubuk pantas dipasang menurun/landai menuju tempat pembubuhan, pada perlengkapan untuk mendorong karbon yang kiranya mengendap dan menyumbat didalam pipa. Buluh-buluh harus dibuat dari bahan publik karat dan bebas erosi seperti (getah) perca, plastik dan besi gemuk. Pendorong saluran dan kesayangan pisau pencampur dalam bak penyimpanan serta tangki mesti terbuat dari metal baja bagi menahan karat dan erosi.

5. Sengketa yang amat umum dalam pengoperasian zat arang aktif pati adalah perlakuan bahan kimia. Karena berbentuk kanji, maka serdak merupakan kesulitan utama, khususnya jika sistem pencampuran lelap digunakan.

6. Jika zat arang aktif bubuk digunakan dengan terus menerus alias jika sejumlah besar dipakai dalam saat tertentu, penukaran ke organisasi basah harus dipertimbangkan
tujuh. Pada instalasi pengolahan air, karbon aktif yang menusuk melewati penyaringan dan memasuki sistem pecah dapat menciptakan “air hitam”. Air hitam biasanya disebabkan oleh koagulasi yang tidak sempurna atau jumlah karbon berperan yang menjulang ditambahkan sejurus sebelum penyaringan. Untuk membongkar masalah itu, titik pembubuhan harus dipindahkan ke sistem penyadap air baku ataupun ke dalam bak pengadukan cepat

Liang aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sekitar besar terdiri dari faktor karbon lepas dan masing- masing bersinggungan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan liang aktif berwatak non polar. Selain pola dan dikotomi, struktur pori juga yaitu faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas tempat, semakin kecil pori-pori arang aktif, mengakibatkan luas rataan semakin besar. Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Dalam meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar menggunakan arang tangkas yang telah dihaluskan. Sifat arang aktif yang paling penting adalah absorbsivitas. Dalam hal ini, tersedia beberapa sisi yang menawan daya serap adsorpsi, yaitu:

1. Sifat Rembesan
Banyak sintesis yang siap diadsorpsi sama arang giat, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda dalam masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah banyak sesuai dengan bertambahnya standar molekul sesapan dari sturktur yang sama, laksana dalam loreng homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus manfaat, ikatan dobel, struktur ikatan dari sintesis serapan.

2. Temperatur
Di dalam pemakaian arang aktif disarankan untuk meneliti temperatur di dalam saat berlangsungnya proses. Segmen yang menawan temperatur mode adsoprsi didefinisikan sebagai viskositas serta stabilitas thermal senyawa rembesan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat sintesis serapan, sebagaimana terjadi perubahan warna mau pun dekomposisi, oleh karena itu perlakuan dilakukan pada kurik didihnya. Dalam senyawa volatil, adsorpsi dikerjakan pada temperatur kamar alias bila mengizinkan pada temperatur yang lebih rendah.

3. pH (Derajat Keasaman).
Untuk asam-asam organik, adsorpsi hendak meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Tersebut disebabkan soalnya kemampuan kecut mineral bagi mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yakni dengan menempatkan alkali, adsorpsi akan sepi sebagai konsekuensi terbentuknya gusar.

4. Saat Singgung
Bila arang giat ditambahkan di dalam suatu enceran, dibutuhkan saat untuk merebut kesetimbangan. Tempo yang dibutuhkan berbanding terjungkal dengan peringkat arang yang digunakan. Jarak ditentukan sama dosis liang aktif, pengadukan juga menawan waktu sodok. Pengadukan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan di dalam partikel liang aktif dalam bersinggungan beserta senyawa rembesan. Untuk perpaduan yang ada viskositas semampai, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lambat.

Karbon rajin merupakan benih yang multifungsi dimana hampir sebagian luas telah dikenakan penggunaannya sama berbagai macam jenis industri. Aplikasi terhadap penggunaan zat arang aktif sanggup dilihat dari skema dibawah ini:
Tabel. 2 Aplikasi implementasi karbon berperan dalam usaha.

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!